Wahai engkau yang pernah singgah di lubuk hatiku
izinkan aku untuk melepas bayangmu di hatiku
akan kuhapus segala memori indah
yang pernah terjadi dahulu
Rasa cinta memang tidak mudah untuk dihilangkan. Apalagi cinta pertama, pasti teramat sulit untuk dilupakan. Hal ini akan menyiksa, bila kita tidak berusaha mengatasinya. Ketika bayangan hadir kembali ke dalam memori. Bahkan sering menghantui mimpi-mimpi. Lantas, apa yang akan kita lakukan?
Menangis? Bersedih? Menyesali yang telah terjadi, atau stres, sakit hati, frustasi bahkan bunuh diri? Menyangka bahwa persoalan ikut selesai dengan berakhirnya hidup? Aku yakin hal itu tidak akan kita lakukan, bukan?
Sesal tiada guna, kecewa tanpa makna itu, mari kita buang jauh dan kita hilangkan. Memang mudah diucapkan. Tapi bagaimana jika bayangnya masih tetap hadir dan mengganggu aktivitas yang kita lakukan? Padahal, kita telah berusaha membuangnya jauh dari hadapan. Sebuah nasihat dari Abdullah bin Mas'ud dapat kita jadikan pegangan, "Apabila kamu merasa kagum dengan seseorang, ingatlah kekurangan-kekurangannya!"
Maaf, bukan bermaksud untuk mencari-cari aib dan mengorek-korek kekurangannya. Tapi, inilah nasihat. Supaya kita tidak diperbudak oleh pesona yang ia tampakkan. Tidak dibuai oleh gejolak nafsu sehingga menjadi bulan-bulanan setan yang hendak mencelakakan. Sulit memang, tapi itulah konsekuensi. Terkadang kurang, bahkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apalagi ini masalah hati dan perasaan. Namun, tujuan kita semata-mata agar tidak larut dan disiksa oleh bayangan wajahnya. Tidak diperbudak oleh nafsu yang mengatasnamakan cinta. Biarlah ia menjadi masa lalu bagi kita, masa lampau yang akan kita kubur kenangannya, masa silam yang akan kita tinggakan segala bentuk suka dukanya. Masa lalu yang harus kita kubur dalam-dalam. Jangan diungkit-ungkit lagi karena dapat menimbulkan kesedihan.
Namun, jika secara psikologis engkau masih sullit melupakannya, tulislah namanya pada selembar kertas. Lalu, sobeklah kertas itu dan nyatakan bahwa engkau akan melupakan dirinya. Membuang jauh bayangan wajahnya. Berpikirlah mungkin dia memang bukan yang terbaik untuk kita. Ingatlah kawan, Allah telah menjamin bahwa DIA akan memenuhi apa yang dipilih-NYA untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri dan pada saat yang dia tentukan, bukan pada saat yang kamu inginkan. Jadi percayalah, bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik untukmu.
Jadikanlah masa lalu sebagai masa yang
kita tidak perlu lagi bersedih atasnya.
Karena, semuanya telah berlalu dan pergi seiring bergulirnya waktu.
Jadikanlah masa kini sebagai kesempatan
untuk mengukir mimpi, meraih prestasi
serta mengoptimalkan potensi.